Tari Jawa klasik gaya Yogyakarta sering disebut “joged Mataram”. Buku yang membahas tari klasik gaya Yogyakarta ini merupakan kumpulan karangan atau bunga rampai yang berisi tulisan dari beberapa tokoh tari dan karawitan Yogyakarta. Buku ini diterbitkan dengan alasan sebagai sarana apresiasi demi pembinaan, pengembangan dan pelestarian kesenian, masih sedikitnya buku-buku atau terbitan-terbitan yang memaparkan perihal kesenian, untuk mencatat semua peristiwa yang mengandung nilai kesejarahan di bidang kesenian terutama seni tari, dan sebagai buku peringatan suatu pergelaran tari klasik gaya Yogyakarta yang melibatkan tokoh-tokoh joged Mataram dari tiga generasi (pergelaran langen beksa dengan lakon Bhisma Mahawira).

Tari klasik gaya Yogyakarta diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I yang bertahta dari tahun 1755 – 1792. Dalam ungkapan tari ini nampak sekali pengaruh kehidupan Sultan yang sangat pemberani heroik namun sederhana. Dalam kesederhaan daya ungkap gerak tersebut terkandung hakekat dan kejiwaan yang sangat mendalam, yang kemudian menjadi suatu ilmu yang disebut filsafat joged Mataram. Ada dua lakon dipergelarkan pada masa tersebut yaitu Gondowerdoyo dan Joyo Semedi, yang mengandung nilai-nilai kepahlawanan.

Dalam perkembangannya terjadi penyempurnaan-penyempurnaan dan penambahan-penambahan ragam tari. Dalam hal ini dapat dilihat ragam tari untuk tari tunggal, beksan, pethilan dan wayang wong Mataram. Semunya menggunakan pola dasar tari yang ada tetapi masing-masing memiliki karakterisasi, jumlah penari dan variasi tari yang berbeda-beda.

Tarian tunggal mempunyai arti tersendiri dalam simbolik, ideal dan magik pembawaan tari serta tuntutan pelaksanaan penghayatan penari, maupun apresiasi artistik penonton. Tari adalah gerak keseluruhan bagian tubuh, diatur seirama iringan lagu, kesesuaian tema, serta maksud tari. Pethilan adalah petikan sebagian dari suatu bentukan. Dalam ujud pentas tari dapat merupakan tarian berpasangan yang pada tari gaya Yogyakarta umumnya bertema perang tanding. Lambang pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan.

Dalam menelusuri nilai-nilai kebudayaan dari leluhur dapat ditempuh lewat kekuatan-kekuatan imajinatif, intuitif yang melandasi kreativitas. Seni tari yang berkembang di istana tampak lebih lugas, anggun, mistis dan militan. Di daerah pedesaan seni tarinya lebih sederhana, praktis, realistis, senafas alam agraris. Tarian sakral adalah tarian yang dipentaskan pada saat-saat tertentu di kraton yang merupakan pusat ritual kejawen. Menjelang pentas penari perlu membersihkan diri dengan puasa dan lain-lain sebagai suatu laku pemusatan batin jiwanya menghadapi tugas suci. Ada dua tarian yang dianggap sakral yaitu Srimpi dan Bedoyo.

Adapun pathokan-pathokan tari klasik gaya Yogyakarta terdiri dari sikap dan gerak badan/deg lan wiraganing badan (tulang punggung berdiri tegak, tulang belikat datar, bahu membuka, dada membusung, tulang rusuk terangkat, perut kempis), sikap dan pandangan mata/pandengan (kelopak mata terbuka, bola mata lurus ke depan, pandangan tajam dengan jarak 3 – 4 kali tinggi badan), gerak leher/pacak gulu (berpusat pada tekukan jiling yaitu persendian kepala dengan leher), gerak tangan (berpusat pada pergelangan tangan, lengan dan siku hanya mengikuti), sikap dan gerak kari (mempunyai ketentuan paha terbuka, lutut terbuka, telapak kaki melintang dan jari kaki diangkat ke atas. Pusat gerak pada pergelangan kaki sehingga tidak mempengaruhi sikap badan dan dapat bergerak dengan trampil untuk menunjukkan sikap kokoh dan kuat), gerak pangkal paha/cethik (pangkal paha merupakan pusat gerakan tubuh ke samping kiri, kanan atau bawah), mendhak (merendah dengan memusatkan gerak pada cethik bukan pada tekukan lututnya).

Di samping pathokan baku (pegangan dasar penari pada umumnya dengan fisik wajar, serasi dan bagus) seperti di atas ada pula pathokan tidak baku. Pathokan tidak baku ini untuk menutupi kekurangan pada diri penari, misal leher lebih pendek dalam pacak gulu secara teknis berbeda dari yang biasa. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi apabila seorang penari terpaksa menjalankan kekhususan dalam menari yaitu luwes (kelihatan wajar dan tidak kaku, lancar mengalir seirama irama), patut (sesuai dan serasi, biasanya berhubungan dengan wondo/raut muka yang menggambarkan perwatakan, misal wondo seorang raksasa), dan resik/bersih dan cemat (hanya bisa terlaksana bila penari menguasai kepekaan irama gendhing, irama gerak dan irama jarak).

Perwatakan dalam tari gaya Yogyakarta secara fisik tercermin dalam ragam tari yang ada. Ragam tari ini pada dasarnya mengambil perwatakan dari wayang kulit dan cerita wayang yang sebagian besar bersumber pada Mahabharata dan Ramayana. Untuk mendalami watak tersebut diperoleh melalui pertama mencoba mengnal tokoh wayang dan mencoba untuk memperoleh gambaran tokoh tersebut baik gambaran luar/bentuk dan gambaran dalam/karakter. Dalam wayang kulit perlu dipahami tentang bentuk (ada tiga halus, gagah dan kasar), wondo/raut muka dan cara berbicara. Kedua mengidentifikasi diri dengan tokoh wayang yang akan dibawakan. Selain itu penari harus secara tepat mendudukkan proporsi dan takaran laku dari tokoh yang dibawakan. Dalam bahasa Jawa disebut lenggah (pengungkapan lahir dan batin dalam proporsi yang dituntut oleh peranannya dengan cermat dan tepat sesuai dengan watak dan kedudukan dari peran yang dihayati) dan patrap (sikap tari yang berhubungan dengan teknis menari). Oleh karena itu di kraton dulu ada spesialisasi peran agar seorang penari dapat mengekspose seluruh kemampuannnya dengan mapan, beberapa peran penting bahkan dibawakan lebih dari satu orang.

Secara garis besar berdasarkan jenisnya peran dalam tari ada dua yaitu peran putra dan putri. Untuk peran putri hanya ada satu pola gerak pokok yang dipergunakan yaitu ngenceng encot atau nggruda. Ragam tari putra ada impur (untuk karakter halus), kambeng (untuk karakter gagah), kalang-kinantang (untuk karakter halus dan gagah), dan bapang (untuk karakter gagah berwatak kasar, sombong dan banyak tingkah). Empat ragam ini masih memiliki variasi yang lebih rumit untuk mengungkapkan karakter secara lebih terperinci.

Untuk dapat menguasai joged Mataram dengan sungguh-sungguh seorang penari harus menguasi filsafat joged Mataram yang terdiri dari sewiji (konsentrasi penuh tanpa menimbulkan ketegangan jiwa, bila diarahkan ke Ketuhanan selalu ingat Tuhan), greged (dinamis atau semangat yang diarahkan ke arah yang wajar, apabila diarahkan ke Ketuhanan seluruh aktifitas dan gairahnya disalurkan melalui jalan Tuhan ), sengguh (percaya pada kemampuan diri, apabila diarahkan ke Ketuhanan merasa bangga sebagai makhluk terhormat tetapi tidak sombong), dan ora mingkuh (tidak mundur meskipun mendapat rintangan, apabila diarahkan ke Ketuhanan meskipun mengalami banyak kesulitan dalam hidup selalu percaya Tuhan Maha Adil). Bila hal ini dapat diterapkan dengan baik akan terjadi keseimbangan lair batin pada diri seseorang. Memang untuk mencapai hal tersebut diperlukan latihan yang keras dan berat. Dari hal di atas terlihat bahwa tari gaya Yogyakarta terdiri dua unsur pokok teknis dan kejiwaan. Teknik tari merupakan kulitnya dan ilmu joged Mataram merupakan isi atau jiwanya.

Tari gaya Yogyakarta ini dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan. Ada dua pengertian perkembangan yaitu perkembangan dalam pengertian penggarapan. Di mana unsur-unsur dasar yang sudah ada diperkaya dengan penambahan atau penciptaan unsur-unsur baru sesuai tingkat kemajuan jaman tanpa mengurangi nilai-nilai dasar yang sudah ada. Perkembangan ini erat hubungannya dengan masalah kualitas seni, orientasi dan inovasi baik teknis mau pun bentuk fisik dari tari. Kedua perkembangan dalam pengertian penyebarluasan. Semula hanya diketahui dan dilakukan oleh satu lingkungan tertentu kemudian menyebar luas ke lingkungan yang lain. Tari klasik gaya Yogyakarta bisa dikatakan mengalami kemajuan hebat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pada masa ini banyak sekali diadakan pembaharuan-pembaharuan mulai dari tata busana dan tata rias, iringan sampai penambahan ragam tari dan penyempurnaan geraknya. Pada masa ini juga berdiri Habiranda atau sekolah pedalangan.

Apabila seseorang ingin menampilkan karya tari harus diingat (pada masa dulu) tidak boleh menyamai kraton yaitu Bedhoyo, Srimpi, Beksan dan wayang wong. Hal ini menyebabkan lahirnya karya tari dengan corak baru misal Langendriyan (teknik tari dengan berjongkok mengambil cerita Damarwulan, dialog dengan tembang) ciptaan Pangeran Mangkubumi, Langen Asmarasupi (teknik menari dengan berjongkok mengambil cerita dari Serat Suluk Asmarasupi) ciptaan K.R.A. Adipati Danureja V dan Langen Mandra Wanara (teknik tari seperti wayang wong tetapi dilakukan sambil berjongkok, dialog dengan tembang) ciptaan K.P.H. Yudonegoro. Tari ini sangat merebut hati rakyat terutama Langen Mandra Wanara sehingga berkembang di beberapa daerah seperti kampung Notoyudan, Sosrowijayan dan Kumendaman. Di daerah pedesaan misal di desa Sembung, Bangungjiwa, Kasihan, Bantul, dan desa Morangan, Triharjo, Sleman.

Tari gaya Yogyakarta ini semakin tersebar luas dengan berdirinya berbagai organisasi tari seperti Krida Beksa Wirama tanggal 17 Agustus 1918, Mardawa Budaya tahun 1960 dan Pamulangan Beksa Ngayogyakarta. Pemerintah juga mendirikan Konservatori Tari Indonesia (KONRI) dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI)tahun 1963.

Gamelan adalah alat musik yang sangat penting di istana Yogyakarta untuk berbagai keperluan upacara. Di istana Yogyakarta ada beberapa pangkon gamelan dan tiap pangkon gamelan pelog atau slendro mempunyai nama sendiri-sendiri dan fungsi sendiri-sendiri. Misal Kangjeng Kyai Guntursari laras pelog untuk mengiringi beksan Trunajaya, Kangjeng Kyai Harjonegoro laras slendro untuk mengiringi Bedhoyo, Srimpi dan wayang wong.

Buku ini karena merupakan buku peringatan pergelaran langen beksa dengan lakon Bhisma Mahawira maka di dalamnya terdapat ringkasan cerita tersebut. Juga memuat beberapa tokoh tari dan karawitan Yogyakarta, serta perkumpulan tari klasik gaya Yogyakarta, yang ikut berperan dalam perkembangan tari klasik gaya Yogyakarta tersebut.

Teks : Kusalamani

(akhir unggah 14 Sep 2009)